Saturday, May 5, 2007

SITUS GUNUNG KELIR

ISTANA KEMATIAN UNTUK KI PANJANG MAS

Situs Makam Gunung Kelir di Dukuh Gunung Kelir, Pleret, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, menyimpan kisah “gelap” Dinasti Mataram Islam ketika tahta di tangan Sunan Amangkurat I. Tokoh-tokoh utama pada episode dramatik waktu itu, tak lain Sang Raja sendiri, Ki Dalang Panjang Mas, dan Ratu Mas Malang.

“JIKA mau bermalam di pemakaman ini, engkau akan mendegar suara kaki kuda menebah tanah. Suara berdebam itu mengelilingi benteng ini. Berkali-kali. Aku mendengar kabar, suara itu adalah derap kaki kuda Amangkurat. Ia selalu datang selepas senja untuk menemui Nyai Panjang Mas. Ia memang sangat mencintainya. Namun, aku juga mendengar kabar lain, suara itu sebenarnya derap kaki kuda Ki Dalang Panjang Mas. Ia tetap setia datang untuk membangunkan teman-teman sejawat buat berjaga di setiap zaman yang gelap dan pengap. Entah mana yang benar…….”
Kemasan paragraf di atas merupakan sequen dari cerita pendek berjudul “Temuilah Aku di Bukit Itu” karya cerpenis Indra Tranggono yang dimuat di Harian Jawa Pos, edisi 15 Mei 2005. Sastrawan dari Yogyakarta ini begitu apik membeberkan sebuah tragedi berdarah yang bersimpul dengan cinta, nafsu, dan kekuasaan. Barangkali di zaman serba digital ini, sebagian besar orang sudah lupa bahkan tak paham sama sekali kisah panjang Ki Dalang Panjang Mas yang menghebohkan Negara Mataram ketika Sunan Amangkurat I berkuasa.
Apalagi sekarang ini hanya tinggal batu nisan yang berserak dalam pagar tembok yang sudah tak utuh lagi. Maka, wajar kiranya bila hanya sedikit orang yang datang menjenguk. Itulah Situs Makam Gunung Kelir. Letaknya 100 meter di atas permukaan air laut, tepatnya di bukit kecil bernama Gunung Kelir. Secara administratif posisi situs itu berada di Dukuh Gunung Kelir, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul. Berdasarkan Laporan Studi Teknis Arkeologis Situs Makam Ratu Mas Malang dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta (27 September-12 Oktober 2004), makam ini dibangun pada tahun 1668 oleh Sunan Amangkurat I, Raja keempat Kerajaan Mataram Islam yang bertahta pada tahun 1646-1677. Amangkurat I inilah yang memindahkan kraton dari Kerta ke Pleret. Amangkurat I lahir pada 1619 dari permaisuri kedua Sultan Agung yang bernama Raden Ayu Wetan.
Amangkurat I menamakan makam itu Antaka Pura atau istana kematian.
Tokoh utama yang disemayamkan di makam itu bernama Ratu Mas Malang. Ratu Mas Malang adalah salah satu garwa selir dari Amangkurat I yang karena sayangnya kemudian diangkat menjadi permaisuri. Sebelum menjadi istri Sang Raja, Ratu Mas Malang bersuamikan Ki Dalang Panjang Mas, seorang dalang tersohor sekaligus penulis kraton. Namun, Ratu Mas Malang sebenarnya bukan penghuni pertama makam itu. Sebelumnya, mantan suaminya, Ki Dalang Panjang Mas, sudah lebih dahulu dikebumikan di situ meski tidak berdampingan.


Diapit Dua Beringin Tua
Memasuki areal makam, kontan disambut dengan suasana sunyi dan sepi. Kesan wingit dan angker pun segera menyelimuti Tamansari ketika berkunjung ke makam itu. Apalagi pohon-pohon tua seperti beringin tampak memayungi batu-batu nisan yang berwana hitam. Pagar yang terbuat dari batu putih setinggi hampir 2,5 meter tampak sudah tak utuh lagi. Secara keseluruhan ada 18 nisan yang membujur, 14 buah diantaranya tersusun dari batuan andesit monolith dan sisanya hanya ditandai dengan tumpukan batu putih.
Menurut Juru Kunci Makam, Surakso Sumarno alias Slamet, memang tidak banyak orang berziarah ke sini. “Hanya saja tempat itu pernah dikunjungi para seniman kondang dan beberapa tokoh nasional,” kata Slamet yang sayangnya enggan menyebutkan nama-nama orang penting negeri ini yang pernah berziarah di situ.
Slamet juga tidak membantah kalau di komplek makam itu kadang muncul peristiwa ganjil. Misalnya: di keheningan malam mendadak terdengar derap langkah kaki kuda, atau kadang terdengar alunan gamelan yang sedang mengiringi pergelaran wayang kulit seperti gendhing sampak. “Mau percaya tau tidak ya terserah,” ucapnya.
Memang, makam itu sengaja dibuat oleh Amangkurat I untuk istrinya, Ratu Mas Malang. Tapi, di tempat itu juga menyimpan jasad seorang dalang legendaris, Ki Panjang Mas. Tempat peristirahatan terakhir Sang Dalang itu berada di sudut barat laut. Nisannya diapit dua pohon beringin tua. Posisi makam Ki Panjang Mas terpisah dengan kelompok makam lainnya. Komposisi batu nisan Ki Panjang Mas hanya berupa onggokan batu diplester namun kini terlihat plesteran semennya sudah mengelupas.
Dari makam Ki Panjang Mas itu coba tengok sedikit ke kanan. Akan terlihat lima nisan di atas tanah yang agak tinggi. Nisan yang paling tengah adalah makam Ratu Mas Malang yang tak lain adalah Nyai Panjang Mas. Makam Ratu Mas Malang ini terletak di halaman tersendiri dan diberi pagar keliling berukuran 8,5 m x 11 m. Sedangkan di samping bawah nisan Ratu Mas Malang, teronggok belasan nisan tanpa nama. Kemungkinan besar itu merupakan kuburan para pengrawit atau penabuh gamelan dan pesinden, -yang semuanya adalah anggota rombongan Ki Dalang Panjang Mas. Bahkan, konon sekotak wayang kulit yang biasanya digunakan Ki Panjang Mas mendalang berikut gamelannya juga dibenamkan di situ.
Meski makam Ki Panjang Mas dan Ratu Mas Malang tidak berdampingan, tentu ada segi historis yang melatarbelakanginya. Padahal kedua tokoh itu pernah hidup dalam ikatan suami-istri, walaupun akhirnya Ratu Mas Malang menjadi permaisuri Amangkurat I.

Mahligai Yang Terkoyak
Ki Dalang Panjang Mas atau juga disebut Anjang Mas berasal dari Pati yang masuk wilayah eks-Karesidenan Kedu. Menurut Surakso Sumarno, Ki Panjang Mas adalah putra seorang dalang murid Sunan Kalijaga. Hidupnya sejak masa Mataram Islam diperintah oleh Panembahan Seda Krapyak hingga masa pemerintahan Amangkurat I. Nama aslinya Soponyono. Ki Panjang Mas adalah seorang dalang yang termasyhur. Kisah tutur yang turun-temurun menyuratkan bahwa nama Panjang Mas didapatnya ketika ia mementaskan wayang di Keraton Ratu Kidul. Ia tidak mau diberi imbalan uang, sehingga penguasa Laut Selatan memberinya baki panjang terbuat dari emas. Nah, dari “hadiah” itulah maka sebutannya popular menjadi Ki Dalang Panjang Mas. Tapi, lain dari kisah itu, ia memang memiliki suara yang merdu, ontowecana setiap tokoh pewayangan gamblang terdengar, dan olah nafasnya sangat panjang sehingga suluknya tak terputus-putus.
Ia juga berprofesi sebagai penulis di kraton yang membuat peraturan tentang tata cara meruwat. Dalam upacara ruwatan , Ki Panjang Mas menggantikan pertunjukan wayang beber dengan wayang kulit. Selain itu, ia juga membikin aturan bahwa barang siapa yang ingin melakukan upacara ruwatan harus meminta ijin dahulu kepadanya.
Tentu saja, sebagai dalang yang laris dan sangat dihormati, Ki Panjang Mas memiliki rombongan pengrawit berikut pesidennya. Salah seorang pesindennya adalah istrinya sendiri. Wanita yang konon berasal dari daerah Malang itu berparas cantik. Jika ditilik dari sisi “katuranggan”, maka bentukan bagian-bagian tubuhnya nyaris sempurna. Kemolekan Nyai Panjang Mas itulah yang membuat Amangkurat I kesengsem dan cinta berat. Sang Raja tidak peduli kalau wanita itu sudah menjadi istri Ki Panjang Mas.
Jika ada ungkapan bahwa cinta itu tak harus memiliki, maka hal itu tidak berlaku bagi Sunan Amangkurat I. Keinginannya tidak ada yang berani membendung, meski harus ada yang dikorbankan. Suatu ketika Ki Panjang Mas diundang untuk mementaskan wayang di balaiurung kraton. Sudah pasti, istrinya yang berperan sebagai sinden mengikutinya.
Di tengah-tengah pergelaran wayang, tiba-tiba blencong (lampu untuk menerangi kelir) di atas kepala Ki Panjang Mas berguncang hebat dan padam karena terkena anak panah. Suasananya pun menjadi gelap. Bersamaan dengan padamnya blencong, ternyata tubuh Ki Panjang Mas sudah terhunjam anak panah. Seketika itu tewas. Siapa yang berulah? Tak ada orang yang tahu. Namun, sejarah mencatat setelah Ki Panjang Mas terbunuh, si waranggana alias Nyai Panjang Mas diperistri oleh Amangkurat I.
Di lain sisi, kematian Ki Panjang Mas bukan sekadar disulut persoalan cinta dari Amangkurat I. Sebagai dalang, Ki Panjang Mas tak jarang menyelipkan kritik terhadap situasi dan kondisi zamannya. Memang, pada masa pemerintahan Amangkurat I lebih dekat dengan Kompeni. Hal itu berbeda dengan Ayahandanya, Sultan Agung Hanyokrokusumo yang jelas antikompeni. Tak pelak lagi, saat itu banyak priyayi yang tidak puas dengan pola kepemimpinan Amangkurat I. Muncul berbagai pemberontakan. Baru setahun bertahta, adik Amangkurat I, bernama Pangeran Alit dibantu seorang ulama bernama Pasingsingan membrontak pada tahun 1647. Berdasarkan catatan Bernard H.M. Vlekke (1996) yang dikutip untuk Laporan Studi Teknis Arkeologis Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta, pemberontakan Pangeran Alit dapat ditumpas dan Amangkurat I berusaha menghabisi para ulama dan keluarganya yang berjumlah 6.000 orang.
Ada lagi kemelut di Mataram karena ulah Pengeran Adipati Anom –yang tak lain adalah putra Amangkurat I sendiri dari istrinya putri Pangeran Pekik dari Surabaya. Semula hanya persoalan wanita, yakni Roro Oyi, seorang wanita simpanan Amangkurat I yang diambil istri oleh Adipati Anom. Konflik bapak-anak ini kemudian meruncing menjadi perebutan tahta. Belum lagi pemberontakan Trunojoyo dan Pangeran Kajoran yang dibantu oleh Kraeng Galensung, tokoh dari Makasar yang menyeberang ke Jawa setelah makasar jatuh ke tangan Belanda.
Tentu saja, kiprah Ki Panjang Mas tidak seberani tokoh-tokoh pembrontak itu. Indra Tranggono dalam cerpennya tersebut di atas menyuratkan, bahwa telinga Amangkurat I risih bila mendengar sentilan-sentilan kritis dari Ki Panjang Mas saat mendalang. Apalagi sudah ada bumbu rasa untuk memiliki Nyai Panjang Mas. Maka, tak ada jalan lain kecuali menghabisi Ki Panjang Mas. Jasad Ki Panjang Mas dimakamkan di Gunung Kelir. Konon, tak hanya Ki Panjang Mas saja yang terbunuh. Anggota rombongannya berupa pengrawit ikut dilibas.

Amangkurat Setia Menunggui Mayat
Kematian Ki Panjang Mas sudah pasti memuluskan niat Amangkurat I untuk segera mengakhiri masa janda Nyai Panjang Mas. Wanita berparas elok itu pun dijadikan selir. Karena saking cintanya, maka Nyai Panjang Mas pun dinaikkan derajatnya menjadi permaisuri dengan gelar Kanjeng Ratu Mas Malang.
Rasanya belum sepenuhnya puas luapan kasih sayang Amangkurat I terhadap Sang Permaisuri, mendadak Ratu Mas Malang meninggal pada tahun 1665. Kepergian yang serasa mendadak itu membuat Amangkurat I tanda Tanya mengenai penyebab tewasnya sang istri. Setelah dilakukan penyelidikan, diduga kematian Ratu Mas Malang karena diracuni oleh orang sekitarnya. Kemurkaan Amangkurat I pun tak terbendung, sehingga beliau kemudian menghukum istrinya yang lain di dalam kamar tanpa diberi makan.
Rupanya rasa cinta Amangkurat I memang tak ternilai kepada Ratu mas Malang. Dalam Babad Tanah Jawi dikisahkan, bahwa ketika Ratu Mas Malang meninggal, Amangkurat I tidak segera menguburkan jenazahnya. Bahkan setiap malam, Sang Raja itu setia menunggui jasad kaku Ratu Mas Malang.
Amangkurat I rela tidur bersanding mayat istrinya. Nah, dalam tidurnya itu bahwa Amangkurat I bermimpi bahwa Ratu Mas Malang telah berkumpul kembali dengan Ki Panjang Mas. Ketika keesokan harinya bangun, Sang Penguasa Mataram itu sadar dengan polah tingkahnya yang telah memisahkan Ratu Mas Malang dengan Ki Panjang Mas. Untuk itu, Amangkurat I memerintahkan supaya jisim istrinya itu dimakamkan di Gunung Kelir meski tidak berjajar dengan Ki Panjang Mas.

1 comment:

Dewi Yuni said...

bank goib : adalah pinjaman bank dengan jaminan umur anda.
uang sihir : adalah uang yang disihir dari nominal tertentu jadi nominal tertentu dan hanya bisa bertahan untuk waktu tertentu.
kawin jin : adalah cara mendaptkan uang dengan kawini jin.
uang balik ; adalah uang yang dapat digunakan jual beli dan akan kembali lagi.
tukar umur : mendapatkan uang dari jual umur sendiri.
dll.
pikirkan dan tanyakan baik buruknya juga resikonya....

dalam perguruan ki sumarno tdk ada istilah mahar dan bayar dimuka...tapi secara gmblang ganti minyak dan ganti uang jalan bisa diberikan dari hasil ritual...setelah berhasil tentu ini lah dinamakan menolong orang.
jika ada pakar yang minta uang lebih dulu ato minta transfer atau minta uang bt beli minyak dan banyak alasan lainya kami mengedukasi bahwa itu pasti penipuan...apalagi kalo alasanya bahwa pakar gak bisa terima dari hasil ritual, kami telah membuktikan bahwa di kisumarno pakar pun dapatnya dari hasil ritual namun dalam batasan tertentu...hati2 penipuan pakar yang mengatasnamakan ki sumarno....sedangkan yang ingin tau atau berkonsultasi dapat melalui putra juga pewaris tahta ilmu ki sumarno adalah mas restu yang mengatas namakan ki sumarno dapat memberitahukan beliau dinomor 085396825257 hanya no ini yang resmi milik ki sumarno.