Monday, May 7, 2007

SEMINAR SEHARI DI BANTUL

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semua,

Para Tamu Undangan yang kami hormati . . .,

Sebelumnya kami sampaikan penghargaan setinggi-tingginya, atas waktu yang telah Bapak/Ibu luangkan untuk menghadiri pertemuan ini. Sungguh kami sadari, undangan ini demikian mendadak sehingga tentu saja mengacaukan agenda kegiatan Bapak/Ibu.
Namun kami yakin, keprihatinan dan kepedulian kita terhadap persoalan yang dihadapi bangsa ini, akan mampu menyisihkan waktu dan kepentingan lainnya.
Syukur alhamdulillah, Yang Mahakuasa pun berkenan mengizinkan kita bertemu dan berkumpul di sini, pada hari ini.

Banyak yang menyesalkan, mengapa undangan mendadak sekali sehingga para tokoh tidak dapat hadir di tengah–tengah kita. Memang kita berharap, tapi informasi dan waktu juga yang menjadi kendala. Untuk itu, kami mohon maaf atas lambatnya undangan yang kami sampaikan.
Pada kesempatan ini pula, kami mohon maaf kepada pihak-pihak yang seharusnya pantas dan layak hadir di sini, namun terlewat dari undangan kami. Bukan maksud kami sengaja mengabaikan, tetapi semata-mata karena keterbatasan informasi yang kami miliki.

Hadirin yang kami muliakan . . .,

Keprihatinan bersama atas kondisi bangsa Indonesia saat ini, telah menumbuhkan kesadaran kolektif seluruh elemen bangsa untuk bangkit dari keterpurukan, lepas dari bayang-bayang perpecahan.

Namun dari mana kita akan memulai?
Apa langkah awal yang harus ditempuh?
Lepas dari keberhasilan atau kegagalannya, berbagai jalan telah kita upayakan.

Di bidang kebudayaan, misalnya, kita saksikan kegairahan masyarakat dalam mengekspresikan adat-istiadat dan tradisi lokal mereka. Dari berbagai latar belakang budaya, yang sifatnya lokal-kedaerahan, masing-masing tampil dengan segala pernak-pernik keindahan dan keanggunannya.
Suatu pemandangan yang selama tiga dekade sebelumnya nyaris mustahil kita jumpai.
Semua itu menyadarkan kita, bahwa Adat dan Budaya adalah akar Bangsa yang mesti kita junjung tinggi, kita banggakan, dan kita lestarikan.

Tegakah kita melihat, membiarkan Adat dan Budaya kita tercabik-cabik oleh budaya luar?
Mari kita renungkan adat ketimuran yang hampir luntur. Pergaulan bebas, budaya luar, obat terlarang, minuman keras telah meraja-lela merasuki Anak Bangsa.

Sementara itu, pada saat bersamaan masih kita saksikan kekerasan di mana-mana. Konflik antar-kelompok di masyarakat, pemaksaan kehendak dengan dalih menegakkan kebenaran dan keadilan, masih saja terjadi.
Juga musibah bencana alam yang beruntun menimpa saudara-saudara kita di berbagai pelosok negeri tercinta, menambah deretan kepedihan kita. Seolah bangsa ini belum akan lepas dari derita berkepanjangan.

Sudah menjadi watak manusia, baik ketika mendapat kedudukan atau tidak, selalu merasa kurang puas dan kecewa hatinya.
Sifat angkara murka masih berkuasa.

Semua itu adalah kesalahan sendiri, karena tidak melihat musimnya. Bila kita perhatikan dengan pandangan mata batin, sungguh aneh ulah manusia. Yang jujur, yang dusta hatinya, dapat diketahui dari satu firasat – dari namik. Namun tidak setiap orang mampu, kecuali yang telah terbuka untuk dunia gaib. Paham terhadap rasa, serta ingat akan safi’i di masa lalu, tetapi lebih rumit ceritanya, budi pekertinya telah tampak pada zaman lain. Banyak orang memahami bahasa dan kehidupan bangsa lain, hingga tidak memahami dan menguasai bahasa sendiri. Adat ketimuran hampir punah karena pengaruh bangsa lain.

Kebudayaan adalah inti yang harus diambil agar dapat menambah budi yang kuat. Mari kita pertimbangkan bersama demi kebaikan. Aturlah rakyat dengan baik, yang mengolah bumi, yang dapat dijadikan tanda atau tengara ‘gemah ripah loh jinawi’. Keutamaan laku dalam memimpin negeri atau bangsa harus tahu kewajibannya, berwibawa tutur katanya—Sabda pandhita ratu. Lakukan napak tilas moyang kita, jangan lupakan tradisi dan adat kebudayaan kita.

Contohnya, semua jiwa sentana Mataram harus kembali pada jati dirinya sebagai ‘orang Jawa’. Harus mau hidup rukun dengan sesama, terutama dengan trah Mataram itu sendiri. Harus tahu peran dan fungsinya sebagai ‘trahing kusuma – rembesing madu’. Baik kebetulan diri sebagai pejabat atau raja, atau mungkin rakyat biasa. Namun kita harus sadar, pendiri Mataram yang akan datang sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk Mataram di masa depan atau “Mataram Binangun”.

Bumi Nusantara kemungkinan masih akan terus-menerus kacau, penuh dengan pertentangan. Ujian pun akan semakin berat, kecuali Mataram Binangun terwujud sesuai dengan keinginan moyang kita. Sudah saatnya, kita mulai menyambung benang merah yang hampir putus, mengumpulkan tulang berserakan.


□ □ □

Hadirin sekalian . . .,

Dengan segala keterbatasan dan kekurangan, kami memberanikan diri mengetengahkan gagasan RUWAT BUMI PERTIWI ini sebagai langkah awal. Sebagai batu pijak untuk membuka simpul keruwetan yang kita hadapi.

Kami akui, ide ini tidak sepenuhnya berasal dari kami sendiri.
Sekadar contoh, kami merasa terilhami gagasan seorang tokoh, maaf tak perlu kami sebut siapa, yang pernah melontarkan wacana “tobat nasional” menjelang masa reformasi, hampir sepuluh tahun lalu.
Sayang sekali, gagasan arif yang oleh pencetusnya dimaksudkan sebagai wacana menuju rekonsiliasi nasional itu mendapat tanggapan dan reaksi yang kurang proporsional. Kita lebih mempersoalkan istilah, ketimbang makna.

Kembali pada RUWAT BUMI PERTIWI, kami maksudkan sebagai langkah awal memaknai kembali pandangan (atau persepsi) dan perlakuan kita pada bumi dan segala isinya, sebagai bentuk tanggung jawab atas amanah yang telah kita terima.
Makmurkan bumi tempat kita berpijak, dan jangan buat kerusakan di atasnya.
Sudahkah kita renungkan, bahwa selama ini perbuatan kita masih jauh dari pesan yang terkandung dalam amanah tersebut?
Seperti terkandung dalam tema Ruwat Bumi Pertiwi ini,

REKONSILIASI NASIONAL MELALUI BUDAYA:
mamasuh malaning bumi – mangasah mingising budi

yang secara harfiah berarti

membasuh lukanya bumi – mengasah tajamnya budi.

Kita bersihkan bumi pertiwi dari noda dan luka yang kita buat—seraya melunakkan budi dan pekerti kita yang masih diwarnai kebengisan dan kekejaman.

Namun sudah selayaknya kita sadari. Sebagai manusia biasa, tanpa izin Sang Pencipta, mana mungkin kita mampu meruwat Bumi Pertiwi ini. Hanya pertolongan dan kemurahanNya jua yang menjadi sandaran kita.

Maka mari kita bersatu dan bergandeng tangan, tanpa meman-dang Ras – Agama dan Golongan, untuk berdoa bersama memohon ampunan atas dosa dan kesalahan, baik sengaja maupun tidak. Semoga Allah SWT mencurahkan kasih-NYA terhadap kita semua sehingga bumi ini aman. Terhindar dari segala bala’ dan bencana, kekacauan dan keangkara-murkaan. Kita bersihkan mental spiritual kita.

Sebagai supranatural, kami mohon kesediaan semua yang hadir maupun belum dapat hadir, untuk membantu kami turut prihatin mewujudkan cita–cita kita melalui Ruwat Bumi Pertiwi ini. Kepada kalangan spiritualis, mari kita berpegang pada kebenaran dan kejujuran.

Hadirin yang kami muliakan . . .,

Perjalanan kami belumlah apa–apa, dan jujur saja sebagai pencetus acara ini, kami masih mempunyai banyak kekurangan dan membutuhkan sumbang saran serta nasehat untuk langkah selanjutnya. Mustahil kami dapat melaksanakan ini semua dalam kesendirian. Maka kami mohon keikhlasan, ketulusan dan waktu pada Bapak/Ibu, juga para Tokoh yang tidak dapat hadir dalam Seminar ini, untuk bersama-sama membawa acara ini sampai titik yang kita harapkan.

Akhir kata, kami hanya bisa mengantar acara ini dengan penuh harap pada rasa kebersamaan dan kepedulian kita. Semoga langkah awal kita pada hari ini mendapat bimbingan dan kekuatan dari Yang Mahakuasa. Amin.

Billahit taufiq wal hidayah
Wal hamdulillahi rabbil ‘alaminWassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

SAMBUTAN

Sambutan “SILATURRAHMI KEBANGSAAN”
Cilacap, 22 April 2007
Bunda Lia Hermin Putri
HP. : 0815 78802 666


Assalamu alaikum wR wB.
Salam sejahtera bagi kita semua.
Suatu kehormatan bagi saya dapat menghadiri undangan ini. Sungguh sangat menarik tema yang dipilih oleh panitia yakni “Nasionalisme yang Religius”. Memang, di saat sekarang ini kita sudah kehilangan rasa kebangsaan kita, di mana di setiap sendi-sendi bangsa sudah terasuki ‘barang asing’ yang mengganggu jiwa dan sikap nasionalisme anak bangsa. Disinilah peran kita sebagai anak bangsa yang harus mempertahankan jati dirinya. Jati diri yang dibingkai oleh Nilai-nilai Pancasila dan UUD 45. Bahwa Pancasila itu sistem Filsafat, nampak dapatnya Pancasila diperas menjadi TRI-SILA ( yakni, Sosio Nasionalisme, Sosio Demokrasi, Sosio Ketuhanan YME) serta TRI-SILA itu disaripatikan menjadi Eka Sila yakni Gotong Royong.
Saudara-saudaraku sekalian,…… jika kita lihat dari sudut pandang supranatural,
Gotong Royong yang paling tinggi adalah Kegotong Royongan Organik yakni Manusia, maka disinilah....... kita sudah kehilangan nurani kebangsaan kita. Sosio cultural yang kian dipengaruhi oleh paham asing semakin menjauhkan kita pada diri kita sendiri. Hal ini jelas sangat berbahaya dan dapat melemahkan bangsa ini. Karenanya, mari kita bersama-sama bangkit dan kembali kepada jati diri kita. Yakni, jati diri yang cinta Bangsa dan ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. Sehingga kami mengingat berjuta Rakyat bersama Sultan HB X di alun-alun Yogya telah menggemakan SUMPAH RAKYAT Yang Isinya:
1. Kami Rakyat Indonesia, Mengaku Bertanah Air Satu, Tanah Air Tanpa
Penindasan.
2. Kami Rakyat Indonesia, Mengaku Berbangsa Satu, Bangsa Yang Gandrung Keadilan.
3. Kami Rakyat Indonesia, Mengaku Berbahasa Satu, Bahasa Kebenaran.
Berkaitan dengan hal itu, kami dari Sanggar Supranatural Songgo Buwono telah memulai lewat berbagai event sebagai therapi untuk mewujudkan kembalinya kejayaan Bangsa Indonesia melalui Budaya dan tradisi adiluhung. Dengan kegiatan-kegiatan tersebut, kami berharap dapat menjembatani “Rekonsiliasi Nasional melalui Budaya” yang tentunya dibarengi dengan menata Nurani.
Mengapa harus pembenahan Nurani…..? Hati nurani inilah yang kini telah terkikis di muka bumi ini. Menghalalkan segala cara hanya untuk kepentingan pribadi sesaat. Keseimbangan antara akal dan hati tak lagi dihiraukan. Karenanya, menjadi hal yang prinsip bagi kita semua untuk melakukan pembenahan hati nurani secara bersama. Didunia Global/Internasional misalnya malah berkembang Filsafat Organisme/Filsafat Proses yang memandang semesta ini sebagai ber- Struktur ( yakni Lahir-Batin ) dan berproses Awal – Akhir. Sedang Struktur tersebut diatas Budaya Jawa mengenal sebagai ajaran Pamoring Kawulo Gusti, sementara mengenal Prosesnya dikenal sebagai Ajaran Sangkan Paraning Dumadi. Maka marilah kita menata Nurani kita mulai sekarang.
Karena pembenahan Nurani merupakan kunci dari segala penyelesaian masalah bangsa, bahkan dunia sekalipun. Banyak hal yang dapat kita lakukan, namun titik tumpu utamanya adalah “kita harus berani menata ulang nurani kita yang sudah bobrok degantikan dengan Nurani kemanusiaan yang sadar akan jati dirinya, karena manusia telah lupa akan jati dirinya.
Untuk itu, perlu suatu terapi yang tepat guna. Contoh dari kami datangnya bencana bergantung pada bagaimana manusia bersikap terhadap sesamanya, manusia terhadap alam dan manusia terhadap Tuhanya. Maka manusia harus ingat akan asal kita dari mana, untuk apa dan mau kemana ( Sangkan Paraning Dumadi )

Pramila, monggo kulo panjenengan sami, tansah eling lan waspada, sampun ngantos celak-celak mahesa mindak gupak, mindak katut kridaning Alam.
Kulo ngaturaken agunging panuwun maring sih paduka, dhumateng para sadherek ingkang lenggah ing riki, awit seserepan ingkang saget kawula tampi kanthi tarwaca, miwah saget anjabaraken pangertosan kawula, mliginipun ingkang magepokan kalawan wewarah, sarta tuntunan ingkang jumbuh kalawan SEJARAH NALURI BUDAYA, Tradisi nenek moyang. Inggih saking punika kawulo saget mawas lekasipun poro kawulo ingkang cengkah miwah nyingkur dateng sejarah tradisi nenek moyang. Reh ning wekdal punika manungsa sampun kalajeng anggenipun kadlarung cengkah klawan bebenering Allah, cengkah klawan hukum ing alam, inggih bebenering alam, sedoyo titah jalma manungsa ingkang gesang ing madyapada wekdal punika purun mboten purun inggih kedah nampi bebenduning Allah. Mugi-mugi kemawon manungsa inkang gesang ing tahun 2007 lan sak lajengipun, sampun ngantos tiru-tiru dateng pakarti miwah lampah jantraning manungsa ingkang cengkah lan nyingkur dateng naluri budaya tradisi nenek moyang, ingkang sayekti saget dados lestarining agesang. Kanthi makaten mugi sang alam paring kawelasan lan mugi Allah paring pangapunten dumateng kito sedoyo. Wusana kita sedoyo lestari ing gesang. Pramila mangga kito sami-sami kekeh kukuh nggondeli wawaton, inggih menika naluri bilih kita bakal bisa nlesep sela selaning garu, mugi kita sedoyo pikantuk rahayu ingkang pinanggih. Maka pada ajaran Sanggar Supranatural Songgo Buwono dikembangkan ajaran Sultan Agung yang isinya “ Memasuh Malaning Bumi, Mangasah Mingising Budi”

Demikian sambutan dari kami, sekiranya ada kesalahan ucapan atau kekurangan dalam penyelenggaraan Silaturahmi Kebangsaan dengan thema Nasionalisme yang Religius. Saya pribadi mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada ormas Honggo Dento, ormas se-azas, dan ormas-ormas yang ber-sinergi, yang telah memberi waktu untuk menyampaikan pandangan sebagai supranatural.
Semoga acara ini dapat membangkitkan nurani kita yang telah terpuruk.
Sekian, Billahi Taufiq wal hidayah, Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saturday, May 5, 2007

SITUS GUNUNG KELIR

ISTANA KEMATIAN UNTUK KI PANJANG MAS

Situs Makam Gunung Kelir di Dukuh Gunung Kelir, Pleret, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, menyimpan kisah “gelap” Dinasti Mataram Islam ketika tahta di tangan Sunan Amangkurat I. Tokoh-tokoh utama pada episode dramatik waktu itu, tak lain Sang Raja sendiri, Ki Dalang Panjang Mas, dan Ratu Mas Malang.

“JIKA mau bermalam di pemakaman ini, engkau akan mendegar suara kaki kuda menebah tanah. Suara berdebam itu mengelilingi benteng ini. Berkali-kali. Aku mendengar kabar, suara itu adalah derap kaki kuda Amangkurat. Ia selalu datang selepas senja untuk menemui Nyai Panjang Mas. Ia memang sangat mencintainya. Namun, aku juga mendengar kabar lain, suara itu sebenarnya derap kaki kuda Ki Dalang Panjang Mas. Ia tetap setia datang untuk membangunkan teman-teman sejawat buat berjaga di setiap zaman yang gelap dan pengap. Entah mana yang benar…….”
Kemasan paragraf di atas merupakan sequen dari cerita pendek berjudul “Temuilah Aku di Bukit Itu” karya cerpenis Indra Tranggono yang dimuat di Harian Jawa Pos, edisi 15 Mei 2005. Sastrawan dari Yogyakarta ini begitu apik membeberkan sebuah tragedi berdarah yang bersimpul dengan cinta, nafsu, dan kekuasaan. Barangkali di zaman serba digital ini, sebagian besar orang sudah lupa bahkan tak paham sama sekali kisah panjang Ki Dalang Panjang Mas yang menghebohkan Negara Mataram ketika Sunan Amangkurat I berkuasa.
Apalagi sekarang ini hanya tinggal batu nisan yang berserak dalam pagar tembok yang sudah tak utuh lagi. Maka, wajar kiranya bila hanya sedikit orang yang datang menjenguk. Itulah Situs Makam Gunung Kelir. Letaknya 100 meter di atas permukaan air laut, tepatnya di bukit kecil bernama Gunung Kelir. Secara administratif posisi situs itu berada di Dukuh Gunung Kelir, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul. Berdasarkan Laporan Studi Teknis Arkeologis Situs Makam Ratu Mas Malang dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta (27 September-12 Oktober 2004), makam ini dibangun pada tahun 1668 oleh Sunan Amangkurat I, Raja keempat Kerajaan Mataram Islam yang bertahta pada tahun 1646-1677. Amangkurat I inilah yang memindahkan kraton dari Kerta ke Pleret. Amangkurat I lahir pada 1619 dari permaisuri kedua Sultan Agung yang bernama Raden Ayu Wetan.
Amangkurat I menamakan makam itu Antaka Pura atau istana kematian.
Tokoh utama yang disemayamkan di makam itu bernama Ratu Mas Malang. Ratu Mas Malang adalah salah satu garwa selir dari Amangkurat I yang karena sayangnya kemudian diangkat menjadi permaisuri. Sebelum menjadi istri Sang Raja, Ratu Mas Malang bersuamikan Ki Dalang Panjang Mas, seorang dalang tersohor sekaligus penulis kraton. Namun, Ratu Mas Malang sebenarnya bukan penghuni pertama makam itu. Sebelumnya, mantan suaminya, Ki Dalang Panjang Mas, sudah lebih dahulu dikebumikan di situ meski tidak berdampingan.


Diapit Dua Beringin Tua
Memasuki areal makam, kontan disambut dengan suasana sunyi dan sepi. Kesan wingit dan angker pun segera menyelimuti Tamansari ketika berkunjung ke makam itu. Apalagi pohon-pohon tua seperti beringin tampak memayungi batu-batu nisan yang berwana hitam. Pagar yang terbuat dari batu putih setinggi hampir 2,5 meter tampak sudah tak utuh lagi. Secara keseluruhan ada 18 nisan yang membujur, 14 buah diantaranya tersusun dari batuan andesit monolith dan sisanya hanya ditandai dengan tumpukan batu putih.
Menurut Juru Kunci Makam, Surakso Sumarno alias Slamet, memang tidak banyak orang berziarah ke sini. “Hanya saja tempat itu pernah dikunjungi para seniman kondang dan beberapa tokoh nasional,” kata Slamet yang sayangnya enggan menyebutkan nama-nama orang penting negeri ini yang pernah berziarah di situ.
Slamet juga tidak membantah kalau di komplek makam itu kadang muncul peristiwa ganjil. Misalnya: di keheningan malam mendadak terdengar derap langkah kaki kuda, atau kadang terdengar alunan gamelan yang sedang mengiringi pergelaran wayang kulit seperti gendhing sampak. “Mau percaya tau tidak ya terserah,” ucapnya.
Memang, makam itu sengaja dibuat oleh Amangkurat I untuk istrinya, Ratu Mas Malang. Tapi, di tempat itu juga menyimpan jasad seorang dalang legendaris, Ki Panjang Mas. Tempat peristirahatan terakhir Sang Dalang itu berada di sudut barat laut. Nisannya diapit dua pohon beringin tua. Posisi makam Ki Panjang Mas terpisah dengan kelompok makam lainnya. Komposisi batu nisan Ki Panjang Mas hanya berupa onggokan batu diplester namun kini terlihat plesteran semennya sudah mengelupas.
Dari makam Ki Panjang Mas itu coba tengok sedikit ke kanan. Akan terlihat lima nisan di atas tanah yang agak tinggi. Nisan yang paling tengah adalah makam Ratu Mas Malang yang tak lain adalah Nyai Panjang Mas. Makam Ratu Mas Malang ini terletak di halaman tersendiri dan diberi pagar keliling berukuran 8,5 m x 11 m. Sedangkan di samping bawah nisan Ratu Mas Malang, teronggok belasan nisan tanpa nama. Kemungkinan besar itu merupakan kuburan para pengrawit atau penabuh gamelan dan pesinden, -yang semuanya adalah anggota rombongan Ki Dalang Panjang Mas. Bahkan, konon sekotak wayang kulit yang biasanya digunakan Ki Panjang Mas mendalang berikut gamelannya juga dibenamkan di situ.
Meski makam Ki Panjang Mas dan Ratu Mas Malang tidak berdampingan, tentu ada segi historis yang melatarbelakanginya. Padahal kedua tokoh itu pernah hidup dalam ikatan suami-istri, walaupun akhirnya Ratu Mas Malang menjadi permaisuri Amangkurat I.

Mahligai Yang Terkoyak
Ki Dalang Panjang Mas atau juga disebut Anjang Mas berasal dari Pati yang masuk wilayah eks-Karesidenan Kedu. Menurut Surakso Sumarno, Ki Panjang Mas adalah putra seorang dalang murid Sunan Kalijaga. Hidupnya sejak masa Mataram Islam diperintah oleh Panembahan Seda Krapyak hingga masa pemerintahan Amangkurat I. Nama aslinya Soponyono. Ki Panjang Mas adalah seorang dalang yang termasyhur. Kisah tutur yang turun-temurun menyuratkan bahwa nama Panjang Mas didapatnya ketika ia mementaskan wayang di Keraton Ratu Kidul. Ia tidak mau diberi imbalan uang, sehingga penguasa Laut Selatan memberinya baki panjang terbuat dari emas. Nah, dari “hadiah” itulah maka sebutannya popular menjadi Ki Dalang Panjang Mas. Tapi, lain dari kisah itu, ia memang memiliki suara yang merdu, ontowecana setiap tokoh pewayangan gamblang terdengar, dan olah nafasnya sangat panjang sehingga suluknya tak terputus-putus.
Ia juga berprofesi sebagai penulis di kraton yang membuat peraturan tentang tata cara meruwat. Dalam upacara ruwatan , Ki Panjang Mas menggantikan pertunjukan wayang beber dengan wayang kulit. Selain itu, ia juga membikin aturan bahwa barang siapa yang ingin melakukan upacara ruwatan harus meminta ijin dahulu kepadanya.
Tentu saja, sebagai dalang yang laris dan sangat dihormati, Ki Panjang Mas memiliki rombongan pengrawit berikut pesidennya. Salah seorang pesindennya adalah istrinya sendiri. Wanita yang konon berasal dari daerah Malang itu berparas cantik. Jika ditilik dari sisi “katuranggan”, maka bentukan bagian-bagian tubuhnya nyaris sempurna. Kemolekan Nyai Panjang Mas itulah yang membuat Amangkurat I kesengsem dan cinta berat. Sang Raja tidak peduli kalau wanita itu sudah menjadi istri Ki Panjang Mas.
Jika ada ungkapan bahwa cinta itu tak harus memiliki, maka hal itu tidak berlaku bagi Sunan Amangkurat I. Keinginannya tidak ada yang berani membendung, meski harus ada yang dikorbankan. Suatu ketika Ki Panjang Mas diundang untuk mementaskan wayang di balaiurung kraton. Sudah pasti, istrinya yang berperan sebagai sinden mengikutinya.
Di tengah-tengah pergelaran wayang, tiba-tiba blencong (lampu untuk menerangi kelir) di atas kepala Ki Panjang Mas berguncang hebat dan padam karena terkena anak panah. Suasananya pun menjadi gelap. Bersamaan dengan padamnya blencong, ternyata tubuh Ki Panjang Mas sudah terhunjam anak panah. Seketika itu tewas. Siapa yang berulah? Tak ada orang yang tahu. Namun, sejarah mencatat setelah Ki Panjang Mas terbunuh, si waranggana alias Nyai Panjang Mas diperistri oleh Amangkurat I.
Di lain sisi, kematian Ki Panjang Mas bukan sekadar disulut persoalan cinta dari Amangkurat I. Sebagai dalang, Ki Panjang Mas tak jarang menyelipkan kritik terhadap situasi dan kondisi zamannya. Memang, pada masa pemerintahan Amangkurat I lebih dekat dengan Kompeni. Hal itu berbeda dengan Ayahandanya, Sultan Agung Hanyokrokusumo yang jelas antikompeni. Tak pelak lagi, saat itu banyak priyayi yang tidak puas dengan pola kepemimpinan Amangkurat I. Muncul berbagai pemberontakan. Baru setahun bertahta, adik Amangkurat I, bernama Pangeran Alit dibantu seorang ulama bernama Pasingsingan membrontak pada tahun 1647. Berdasarkan catatan Bernard H.M. Vlekke (1996) yang dikutip untuk Laporan Studi Teknis Arkeologis Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta, pemberontakan Pangeran Alit dapat ditumpas dan Amangkurat I berusaha menghabisi para ulama dan keluarganya yang berjumlah 6.000 orang.
Ada lagi kemelut di Mataram karena ulah Pengeran Adipati Anom –yang tak lain adalah putra Amangkurat I sendiri dari istrinya putri Pangeran Pekik dari Surabaya. Semula hanya persoalan wanita, yakni Roro Oyi, seorang wanita simpanan Amangkurat I yang diambil istri oleh Adipati Anom. Konflik bapak-anak ini kemudian meruncing menjadi perebutan tahta. Belum lagi pemberontakan Trunojoyo dan Pangeran Kajoran yang dibantu oleh Kraeng Galensung, tokoh dari Makasar yang menyeberang ke Jawa setelah makasar jatuh ke tangan Belanda.
Tentu saja, kiprah Ki Panjang Mas tidak seberani tokoh-tokoh pembrontak itu. Indra Tranggono dalam cerpennya tersebut di atas menyuratkan, bahwa telinga Amangkurat I risih bila mendengar sentilan-sentilan kritis dari Ki Panjang Mas saat mendalang. Apalagi sudah ada bumbu rasa untuk memiliki Nyai Panjang Mas. Maka, tak ada jalan lain kecuali menghabisi Ki Panjang Mas. Jasad Ki Panjang Mas dimakamkan di Gunung Kelir. Konon, tak hanya Ki Panjang Mas saja yang terbunuh. Anggota rombongannya berupa pengrawit ikut dilibas.

Amangkurat Setia Menunggui Mayat
Kematian Ki Panjang Mas sudah pasti memuluskan niat Amangkurat I untuk segera mengakhiri masa janda Nyai Panjang Mas. Wanita berparas elok itu pun dijadikan selir. Karena saking cintanya, maka Nyai Panjang Mas pun dinaikkan derajatnya menjadi permaisuri dengan gelar Kanjeng Ratu Mas Malang.
Rasanya belum sepenuhnya puas luapan kasih sayang Amangkurat I terhadap Sang Permaisuri, mendadak Ratu Mas Malang meninggal pada tahun 1665. Kepergian yang serasa mendadak itu membuat Amangkurat I tanda Tanya mengenai penyebab tewasnya sang istri. Setelah dilakukan penyelidikan, diduga kematian Ratu Mas Malang karena diracuni oleh orang sekitarnya. Kemurkaan Amangkurat I pun tak terbendung, sehingga beliau kemudian menghukum istrinya yang lain di dalam kamar tanpa diberi makan.
Rupanya rasa cinta Amangkurat I memang tak ternilai kepada Ratu mas Malang. Dalam Babad Tanah Jawi dikisahkan, bahwa ketika Ratu Mas Malang meninggal, Amangkurat I tidak segera menguburkan jenazahnya. Bahkan setiap malam, Sang Raja itu setia menunggui jasad kaku Ratu Mas Malang.
Amangkurat I rela tidur bersanding mayat istrinya. Nah, dalam tidurnya itu bahwa Amangkurat I bermimpi bahwa Ratu Mas Malang telah berkumpul kembali dengan Ki Panjang Mas. Ketika keesokan harinya bangun, Sang Penguasa Mataram itu sadar dengan polah tingkahnya yang telah memisahkan Ratu Mas Malang dengan Ki Panjang Mas. Untuk itu, Amangkurat I memerintahkan supaya jisim istrinya itu dimakamkan di Gunung Kelir meski tidak berjajar dengan Ki Panjang Mas.

BEDOYO SONGGO BUWONO

MALAM indah penuh cahaya bulan purnama di Pantai Prangkusumo. Seakan malam ingin mencapai kesempurnaan dalam pujian alam. Angin pun berhembus perlahan dari arah selatan. Tiupannya menyebarkan udara segar sore hari berkat hujan yang mengguyur wilayah Bantul- Yogyakarta. Segala tanaman menggeliat perlahan menggerak-gerakkan tangkai dan daun-daunnya. Tampaknya malam di Parangkusumo mendekati sempurna saat sembilan putri jelita menabur keindahan melalui tari, tari Bedoyo Songgo Buwono. Alam menari bersama umat manusia yang hadir dalam ritual tradisi yang diselenggarakan Sanggar Supranatural Songgo Buwono. Malam itu ternyata menjadi malam yang sempurna dikala umat manusia berdoa. Doa itulah yang menyempurnakan malam bulan penuh cahaya purnama Mulai dari rakyat jelata yang keseharian sulit mendapatkan rejeki, wanita-wanita dan lelaki nakal, tokoh-tokoh supranatural, para pujangga perguruan tinggi sampai Sunan dari Surakarta, hening bersama dan berdoa.
Doa itu juga dibawa dalam Bedoyo Songgo Buwono. Bedoyo lalu menjadi ungkapan batin umat manusia yang memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa demi keharmonisan, ketenteraman dan keselamatan. Diawali gendhing Lir-ilir Panuwun, Bedoyo Songgo Buwono merambat pelan dan halus dalam formasi simbol tubuh manusia "Marilah bangkit dari segala duka dan bencana. Sebagai orang yang beriman, menghadapi duka dan kesusahan tidak cukup meratap, tetapi berupaya sambil berdoa," kata Ny. Lia Hermin Putri yang menyelenggarakan Bedoyo Songgo Buwono sebagai pimpinan Sanggar Supranatural Songgo Buwono.
Sayup-sayup, gelora ombak pantai Selatan di Parangkusumo terdengar dari panggung Bedoyo Songgo Buwono. Suara alam menyatu dengan gendhing Ngesti Laras garapan Drs. Trusto yang mengiringi Bedoyo. Sembilan penari putri juga mengikuti nyanyian alam dalam gendhing. Formasi mendambakan keharmonisan, keseimbangan berkembang. Formasi kedua menunjukkan bahwa dua hal yang berbeda itu bisa menjadi kekuatan ketika bersatu tetapi bisa menjadi pertempuran atau konflik jika tidak ada keselarasan.
Gerak halus tangan-tangan indah disertai liuk tubuh sembilan penari yang memancarkan kehalusan budi dan pekerti diiringi Ladrang Eling-eling, Bedoyo Songgo Buwono membawa suasana pada ingatan manusia kepada para teladan Bangsa, seperti Panembahan Senopati, tokoh legendaris dari Kerajaan Mataram. "Manusia diajak untuk eling atau ingat akan segala perbuatan kita sebagai manusia ciptaan yang tidak lepas dari segala musibah yang sekarang ini menimpa bangsa Indonesia. Ingat akan sesama, ingat akan alam dan ingat akan Tuhan.” tutur Trusto yang juga dosen ISI jurusan Karawitan.
Sementara dari Bedoyo Songgo Buwono, manusia diajak merenungkan akan tujuan yang hendak dicapai dan direnungkan dalam sebuah doa, yaitu Manunggaling Kawulo lan Gusti. Ada kesatuan yang lebur jadi satu antara Kawulo dan Gusti dalam doa. Demikian dikatakan Jiyu Wijayanti, koreografer tari Bedoyo Songgo Buwono.
Akhirnya, tembang atau gendhing Eling-eling dituntaskan dengan Sinom Tuladha bersamaan dengan terbentuknya formasi rakit lajur dari Bedoyo Songgo Buwono. "Harmonisasi, keseimbangan antara manusia dengan sesama manusia, manusia dengan alam semesta dan akhirnya keseimbangan antara manusia dengan Penciptanya. Di sisi lain kita diajak meneladani para tokob-tokoh leluhur Bangsa dan Negara ini yang begitu mencintai Bangsa dan Negaranya dalam berbagai keragaman," tarmbah Lia Hermin Putri.
Bersamaan itu terdengarlah syair-syair Sinom Tuladha :" Nuladha laku utomo; tumrapeng wong Tanah Jawi; Wong Agung ing Ngeksigondo, Panembahan Senopati; Kepati amarsudi; Sudane hawa lan nepsu; Pinesu tapa brata; tan nepi ing siang ratri, Amemangun Karyek nak tyas ing sesami." Sementara itu Bedoyo Songgo Buwono pun berpesan :"Harmonisasi"

KONSULTASI

Menangkap Tanda-Tanda Zaman

Di tengah serba-ketidakpastian seperti sekarang—situasi ekonomi yang tidak menentu, aksi kekerasan dan unjuk rasa kian marak di mana-mana, belum lagi bencana (alam maupun man made) seakan sudah menjadi bagian hidup sehari-hari kita, Bangsa Indonesia—semakin banyak lapisan masyarakat menjadi gamang menatap “hari esok” Indonesia. Gambaran Indonesia melesat lepas landas sebagai negara industrialis maju di kawasan Asia-Pasifik, yang didengung-dengungkan semasa Orde Baru, kian pudar dan jauh dari angan-angan. Kita bahkan masih terseok-seok, berusaha bangkit. Lepas dari kubangan krisis multidimensi yang entah kapan berakhir. Namun, di tengah masyarakat yang pesimistis, tetap saja ada yang melihat “fenomena Indonesia” ini dari kearifan lama sebagai peringatan bagi kita semua. Serangkaian tanda-tanda zaman telah nampak, mengawali datangnya masa keemasan Indonesia sebagai “tamansari dunia”. Nah, tinggal bagaimana kita memaknai serta menyikapinya. Dapatkah kita menangkap sepercik cahaya di tengah kelamnya perjalanan Bangsa Indonesia saat ini? (Bunda Lia Hermin Putri)

Tanya: Bunda Lia yang budiwan, sebagai pembaca awam TAMANSARI yang selalu mengikuti berita liputan kegiatan Sanggar yang Bunda pimpin, saya ingin menanyakan gejala yang marak di sekitar kita. Belakangan ini, banyak orang berburu ilmu kesaktian dengan segala cara, untuk berbagai tujuan. Bagaimana pandangan Bunda sebagai Supranaturalis melihat fenomena ini? Dan, siapa sih orang yang disebut sakti itu? Mohon penjelasan Bunda. Terima kasih. (alfaqir_dina, Duyung 80, Malang – Jatim)

Jawab: Terima kasih juga, Anda telah mengapresiasi kegiatan kami melalui liputan tabloid TAMANSARI. Mengenai maraknya orang berburu (ilmu) kesaktian seperti Anda sebut, sebetulnya bukan sekarang saja terjadi. Di awal perjalanan Bangsa Indonesia, ketika menghadapi penjajah yang hendak merampas kembali kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan, para pejuang kita pun berburu kesaktian. Demikian pula, menjelang dan menyusul peristiwa berdarah di tahun 1965, banyak warga masyarakat melakukan hal sama—mendatangi kyai/ulama atau guru ilmu kebatinan, yang konon dapat memberi kesaktian. Demikian dikisahkan orang-orang tua kita. Bedanya, dulu jelas siapa musuh atau, setidaknya, dianggap musuh. Tapi sekarang? Kaum “kriminal” jalanan itukah musuh kita? Bukan! Menurut hemat saya, mereka saudara kita juga. Yang terpinggirkan, yang teraniaya. Yang tertindas oleh sistem sosial-ekonomi tidak adil dan korup, tidak memihak kaum yang terlemahkan. Memang, kriminal sejati tetap ada. Namun skalanya tidak seperti kita bayangkan. Jadi, musuh kita adalah ketidakadilan, pemaksaan kehendak dan perilaku korup. Dan tentu saja, bukan kita hadapi dengan ilmu kebal atau kesaktian, melainkan melalui kepedulian dan keberpihakan kita semua. Mengenai pertanyaan, siapa yang disebut orang sakti, jawaban saya singkat saja. Orang sakti adalah orang yang telah berhasil mengalahkan musuh besarnya, yakni hawa nafsunya sendiri. Anda sependapat?


Tanya: Bunda Lia yang kami hormati, melalui Rubrik Konsultasi tabloid TAMANSARI yang Bunda asuh, saya ingin menanyakan penyakit/keluhan kakak perempuan saya. Namanya Lakshmi Cahyana Dewi, umur 36 tahun, hari/pasaran wetonnya Selasa Kliwon. Status janda, dengan 4 anak.
Lima tahun belakangan ini mengeluh sering mengalami kejang perut, sukar buang air besar. Kalau sedang kambuh, kadang disertai sesak napas dan jantung berdebar, sehingga kami khawatirkan keselamatannya. Secara medis, sudah kami periksakan kondisi kesehatannya ke dokter spesialis penyakit dalam/internis dan menjalani pemeriksaan laboratorium klinis. Kata dokter, sebenarnya dia tidak mengidap penyakit serius. Hanya menderita semacam psikosomatis, tapi kalau dibiarkan dan tidak mendapat penanganan semestinya, tidak tertutup kemungkinan akan mengakibatkan penyakit serius. Kami sekeluarga ada keinginan membawanya ke pengobatan alternatif, kebetulan saya membaca advertorial tentang program Bakti Sosial Songgo Buwono yang Bunda pimpin. Melalui konsultasi ini kami berharap Bunda Lia memberikan solusi/terapi alternatif untuk meringankan penderitaan kakak tersebut. Syukur-syukur bisa sembuh secara permanen. Atas perhatian dan kepedulian Bunda, kami sekeluarga menyampaikan terima kasih tak terhingga. (Maya Indranila, Semarang - Jateng)

Jawab: Terima kasih atas kepercayaan Anda sekeluarga. Sebelumnya perlu saya sampaikan, kesembuhan suatu penyakit semata-mata berasal dari kemurahan dan izin-Nya, serta keyakinan penderita sendiri. Dalam hal pengobatan, kami (Sanggar Songgo Buwono) sekadar lantaran untuk melakukan ikhtiar, tidak lebih. Karena itu, marilah kita awali bersama-sama dengan memohon kepada-Nya. Mengenai keluhan/penyakit kakak Anda, sudah benar langkah Anda sekeluarga membawanya ke ahli medis yang berkompeten. Dari teledeteksi yang saya lakukan, kakak Anda memendam beban psikologis yang tidak selaras dengan kemampuan fisiknya. Akar masalahnya bisa berasal dari pengalaman masa lalu, katakanlah semacam obsesi yang sedemikian mengristal sehingga membuatnya terpacu untuk mewujudkan. Dia selalu berpikir untuk melakukan sesuatu secara “kolosal”. Tak peduli berapa pun harga yang harus dia bayar, asal obsesinya terpenuhi. Biasanya, pribadi seperti kakak Anda memiliki temperamen keras. Sekaligus tidak mudah menyerah. Suatu potensi luarbiasa dan sikap positif dalam pencapaian prestasi, namun perlu pengelolaan yang tepat. Kalau tidak, dampaknya antara lain seperti Anda ceritakan dalam surat. Dalam pandangannya, dunia ini penuh persaingan. Dan dia terpacu untuk memenangi setiap persaingan. Dia butuh pengakuan dari lingkungan (teman pergaulan, keluarga, masyarakat) terhadap prestasi keberhasilannya. Untuk saat ini, yang perlu Anda/keluarga lakukan adalah bersikap lembut dan menerima dia apa adanya. Tapi ingat, dia tabu dikasihani atau dicela. Kalau mau, ada semacam terapi praktis—yang mengadopsi latihan para yogi Hindu atau sufi Islam dalam menyelaraskan pusat-pusat energi tubuh (chakra atau latha’if) untuk meraih tingkat keselarasan/kesadaran tertentu. Manakala fase keselarasan ini tercapai, di samping keluhan-keluhan lenyap, potensi untuk mewujudkan obsesi apa pun akan terbangkitkan secara luarbiasa. Adapun tradisionalnya setiap bangun tidur pagi sebelum makan/minum - parutkan kunyit ½ ons lalu saring, ambil airnya dan diminum. Selama 1 jam jangan sarapan/minum apapun, setelah satu jam boleh minum/sarapan pagi. Lakukan selama 21 hari terus-menerus tanpa putus. Semoga kakak Anda sembuh dan penyakit yang diderita dapat teratasi dengan izin Allah SWT. Amin.

Friday, May 4, 2007

TITIK BALIK PERADABAN

NGARSA Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X, Raja Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sekaligus Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, sering kali mengungkapkan tema Titik Balik Peradaban, baik dalam berbagai forum dialog maupun di media massa. Istilah “Titik Balik” itu secara resmi merupakan judul buku tulisan Fritjov Capra. Buku lainnya yang menjadi pengantar hal ihwal “titik balik” bertitel The Tao oh the Physics. Karya kelanjutannya The Hidden Connection.
Sebelum menukik tentang “Titik Balik”, ada baiknya ingatan pembaca disegarkan kembali makna “Pergelaran” yaitu dengan mengacu gelar Sultan selengkapnya, yakni Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping X. Kandungan makna gelar itu pernah dijelaskan untuk umum ketika Beliau menerima gelar adat Minangkabau, beberapa tahun lalu, sebagai berikut:
Ngarsa Dalem (yang di depan anda)
Sampeyan Dalem (kaki anda)
Ingkang Sinuwun (yang diminta)
Kangjeng Sinuwun (tekad disertai daya)
Hamengku Buwono (yang mencakup, meliputi semua segala syahadat
awal-akhir, lahir-batin)
Senopati Ing Alaga (panglima di medan juang)
Abdur-Rahman (hamba Tuhan, Kawula Gusti)
Sayidin Panatagama Khalifatullah (penghulu peƱata agama,
pemeran/wakil Tuhan)

Kemasan makna gelar itu terurai mulai dari “jangkah” (gerak langkah kaki) itu dalam rangka “jangka”, yaitu tekad penuh daya; itulah kesaksian total (awal-akhir, lahir-batin). Tahap berikutnya, Panglima Pemenang di arena laga, tidak lain adalah Nafsu Muthmainnah (QS 89: 27-30), dan itulah ajaran Kawula-Gusti –yang diperkenankan-Nya menjadi wakil Tuhan di muka bumi ini.
Gelaran seperti itu tidak dapat dilepaskan dengan Wedharan serta Wisikan. Lengkapnya Wisikan Ananing Dat, Wedharan Wahananing Dat, serta Gelaran Kahananing Dat. Itu semua dibabarkan sebagai “pusaka” Jawa (Jiwa kang Kajawi) sebagai salah satu kearifan lokal Nusantara –yang harus tetap dipelihara kandungan mata air jernihnya (banyu bening-nya), namun tetap bermuara pada “laut” Indonesia yang satu yang sama.
Tentang Wisikan Ananing Dat, yakni “sesungguhnya tidak ada apa-apa”, kecuali tentu saja yang “berkata” tanpa kata itu, merupakan momentum Eneng-Ening (Murwa Kandha). Itulah maklumat Ratu yang sadar kosmis, yang ketika sinewaka, yakni menghadirkan terus kesadaran murni, tanpa beban itu, Pancering Tingal Dalem tidak lain tertuju ke TUGU GOLONG GILIG (lambang kesatuan lingga yoni). Kalau itu telah tercapai, maka Ngarsa Dalem kondur angedaton serta lelangen di Taman Sari “Ruang Rohani”. Sementara Pepatih atau Warangka Dalem metu njaba (keluar) sesuai dengan pedoman Wedharan serta Gelaran.
Nah, Tabloid Anda, Taman Sari, ini berturut-turut akan memaparkan kearifan lokal Nusantara, dimulai dari Jawa, mencakup Catur Sagatra (Kasunanan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran di Surakarta, Kasultanan serta Kadipaten Pakualaman di Yogyakarta). Tentu saja tak ketinggalan Cirebon dan Banten, kemudian ke luar Jawa.

Mengapa Titik Balik?
Wanita itu sepanjang masa adalah pelengkap pelaku atau pelengkap penderita kaum pria. Lho! Ya begitulah karena wanita tidak dijadikan dari “tanah” , melainkan dari tulang rusuk pria. Sebelum hadirnya Dewi Maria (Maryam) –yang melambangkan peran subjek pelaku penuh, ketika ia yang virgin mbobot dan mbabar Ruh dari rahimnya. Itulah titik balik peradaban, manakala kandungan maknawinya tidak terbatas pada rahim seorang perawan, melainkan justru menerobos lintas batas ruang dan waktu, mengacu ke virginitas alam yang mbabar Ruh dari Alam ke Alif-Lam-Mim. Mereka yang netral dari residu buatan manusia –yang akan selamat mulih-pulih ke “Rahim” Sang Khalik.
Tidak berlebihan kiranya kalau istilah “Materam” dipahami dalam rangka persiapan Rahim Kultural, Spriritual Global,danUniversal. Langkah pertama yang utama ialah laku Njangka dan Njangkah. Kalau seseorang mempergunakan jangka untuk membuat lingkaran bulat, maka pertama kali harus yakin bahwa ujung jarum jangkanya tajam, posisinya madhep-mantep-tetep, tidak goyang. Menurut Ki Hajar Dewantara lakunya adalah Neng-Ning-Nung-Nang: “Enenging salah bawa, Enining ati manungku puja, Dumununging Kasunyatan, Wenanging Jumenengan. Maka kalau ujung jangkanya tumpul dan posisinya goyang, tentunya lingkarannya gagal temu gelang dan tidak bulat.
Hanya saja, perlu disadari bahwa setajam apapun ujung jangka, kalau diperiksa dengan mikroskop elektronik ujung jangka tadi pastilah sangat tumpul. Kalau demikian ujung jangka sebagai lambang HATI (panah yang MANAH) akan mencapai ketajaman optimal kalau mencapai titik NOL –yang pernyataannya “sesungguhnya tidak ada apa-apa”. Simaklah! Gerakan thawaf yang anti jarum jam, sesungguhnya adalah gerakan membuat angka nol, melalui tujuh lingkaran mengitari Kabah, mencakup Hayat, Qodrat, Iradat, Ilman, Kalam, Sami’an, Basiran, agar dengan taqorrub mendekatkan diri kepada-Nya melalui kesaksian bahwa “di dalam Kabah itu tidak ada apa-apa”, kecuali tentu saja yang masuk ke dalamnya dengan RAGA-SUKSMA bukan Ngrogoh Sukma.



Awal-Akhir, Lahir-Batin
Anda lahir dari mana? Kalau jawabannya dari rahim ibu, itu menurut ilmu kebidanan. Anda lahir dari batin. Jangan keburu bingung dulu. Coba cermati mengenai Gotong-royong sebagai intisari Filsafat Pancasila, menemukan muara globalnya pada Filsafat Proses/Filsafat Organisme –yang memandang semesta realitas ini “berstruktur” (Lahir-Batin) dan “berproses” (Awal-Akhir). Kearifan lokal Jawa mengenal struktur tadi sebagai Pamoring Kawula Gusti. Sementara prosesnya sebagai Sangkan Paraning Dumadi. Hanya saja perlu diingat bahwa kata-kata “lahir”, “batin”, “awal”, “akhir” itu semuanya adalah bahasa Arab; agar orang tidak kearab-araban, maka harus diungkapkan substrat kearifan lokalnya. Lahir itu babar, gelar, babaran, gumelar; sedang Batin itu gumeleng-gumulung.
Jika demikian, maka orientasi awal-akhir, lahir-batin, itu tidak lain adalah orientasi Cipta Gumeleng, berupa laku lenging cipta wus gumeleng. Mereka yang seperti itulah yang ngasta pusaraning adil, yang menjunjung tinggi pesan Prof. Dr. Mr. Soepomo agar berpegang teguh pada Geistlichen Hintergrund (suasana kebatinan), Hidden Connection (tali-rasa/rasa-tali) sebagai pengikat persatuan kesatuan bangsa.
Mari kita telisik bahwa diri itu “terminal kepribadian”, sehingga diri yang piawai untuk mawas diri, yang muthmainnah, yang mengalami pencerahan terang seribu bulan, yang muter Taman Sari atau Taman Sri Wedari, adalah diri pelaku Titik Balik Peradaban, yang mulih-pulih Jumeneng Pribadi.